GenRe


Sambil menunggu selesainya pick up document di Citibank, perhatian saya tertuju pada televisi disudut atas ruangan yang sedang menayangkan program baru bertajuk “Opini”. Farhan yang dipercaya TV One untuk menjadi Presenternya kembali berpasangan dengan Indy Barends. Keduanya memang telah bekerjasama lima tahun lalu semenjak mereka jadi penyiar radio di Hard Rock FM Jakarta sehingga tampak kompak menggali informasi dari bintang tamu mereka.

Dengan gayanya yang khas, Farhan mengetengahkan persoalan remaja terkait dengan sedang gencar-gencarnya BKKBN mensosialisasikan sebuah program yang disebut GenRe atau Generasi Remaja. Saya jadi teringat program KB di masa pak harto dulu, hanya kemasannya saja yang berbeda, strategi promosinya lebih ditujukan langsung ke remaja. Begitu juga dengan sasaran akhirnya hampir sama, yaitu untuk mewujudkan generasi berencana (Genre) program KB yang berisikan menunda usia pernikahan, berperilaku sehat, terhindar dari risiko seksualitas, HIV/AIDS, Napza, bercita-cita mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.

Untuk meningkatkan promosi dikalangan mahasiswa, BKKBN menyelenggarakan pemilihan Duta Mahasiswa Tingkat Nasional. BKKBN juga membentuk Pusat Informasi dan Konseling (PIK) mahasiswa yang sudah dimulai tahun lalu di 7 perguruan tinggi terus diperluas di seluruh Indonesia. PIK mahasiswa ini memiliki tiga peran yaitu sebagai tempat magang, studi banding, rujukan, sebagai wadah penelitian prgram KB, dan sebagai wadah pengembangan kegiatan melalui PKL/KKN. Di televisi tadi sore itu dengan semangat si Bapak dari BKKBN memaparkan visi misinya bahwa di setiap Kecamatan harus mempunyai 1 PIK yang aktif yang akan menjadi tempat curhat para remaja, yang peduli terhadap isu-isunya dan ikut ambil bagian menjadi generasi muda yang berjuang demi perubahan bagi bangsa.

***

Diluar hujan deras mulai mengguyur jalan jendral sudirman, saya agak tersenyum menyaksikan acara itu, bukan karena Farhan yang lucu, tetapi terkadang saya kurang memahami pola pikir yang membuat konsep sedemikian ciamiknya tanpa berfikir bagaimana aplikasinya di lapangan. Remaja memiliki dunianya sendiri, menjadikan mereka sesuai dengan yang kita mau terasa sangat berat, terutama di era hedonis konsumtif dan materialistis seperti sekarang ini. Mereka dikepung oleh kuatnya arus informasi dari berbagai media yang menawarkan mimpi, kenikmatan dan keglamoran yang dapat dicapai dengan waktu yang singkat. Seperti membuat mie instan dicuaca dingin seperti ini, 3 menit nikmatnya langsung terasa.

Jarang saya melihat anak-anak sekarang bermain gasing, gobak sodor, petak benteng, petak umpet, petak jongkok, atau anak-anak perempuannya yang riang bermain congklak, bola bekel, dan lain-lain. Mereka lebih disibukkan oleh permainan elektronik dan teknologi mutakhir lainnya. Sandal dan sepatu kini lebih banyak berserakan didepan warnet dan rental PS dibandingkan didepan musholla. Padahal menginjak remaja biasanya selepas SMA mereka akan melanjutkan pendidikan sekolah diluar kota. Yakinkah mereka akan mampu menghadapi berbagai godaan dan menjadi remaja yang bertanggung jawab dilingkungan yang jauh dari pengawasan orang lain?

Teori yang paling sederhana dan paling mudah aplikasinya meski sering tidak disadari oleh kita adalah orangtua sesungguhnya merupakan tokoh panutan bagi anak-anak. Omongan, perilaku, bahkan mimik muka kita pun bisa ditiru anak. Untuk perilaku positif tentu kita senang, tapi mungkin kita tidak sadar kalau kita juga berpotensi menularkan perilaku buruk pada anak-anak kita sendiri.

Kesadaran inilah yang juga membuat Farhan rela berhenti merokok demi anak-anaknya agar tidak mengikuti jejaknya sebagai perokok. Farhan juga aktif dalam kegiatan sosial diantaranya kampanye rajin cuci tangan untuk mencegah flu burung dan aktifitas pencegahan penyalahgunaan narkoba sejak dini. Memang kita tiidak perlu seheboh Farhan, mungkin bisa kita mulai dari yang kecil-kecil saja, semisal melaksanakan sholat terlebih dahulu sebelum memarahi anak-anak kita yang belum sholat. Bagaimana? (*)

GILA HORMAT


Ini cerita Gading Marten dari Magelang, entah mimpi apa ia semalam sampai harus ditodong senjata oleh seorang polisi saat dirinya sedang melakukan pengambilan gambar untuk film “Laskar Pemimpi”.

Kegiatan syutingpun terpaksa dihentikan karena ulah oknum aparat yang melarangnya syuting dengan alasan karena menghalangi mobilnya yang mau dia lewati. Gading Marten yang berperan sebagai Kapten Hadi dalam film berlatar belakang sejarah ini benar-benar kecewa menghadapi kenyataan di zaman sekarang masih banyak orang yang gila hormat.


***


Pada dasarnya sifat ingin dipuji dan dihormati adalah sifat alamiah manusia. Jarang-jarang saya melihat orang yang senang dikritik atau dicela. Kalaupun kelihatannya ada yang senang, biasanya hanya dimulut saja. Hati orang siapa yang tahu kan?

Manusia memiliki hati dan nafsu, maka sah-sah saja sepanjang sesuai dalam konteks yang benar dan tepat. Namun menjadi ‘salah’ ketika sudah mengarah ke gila hormat dan gila pujian. Banyak orang yang menggunakan berbagai cara agar orang lain selalu menghormati dan memujinya.

Ada pejabat yang tersinggung apabila kedatangannya tidak disambut dengan penuh hormat atau marah-marak ketika tidak termasuk dalam daftar yang dipersilahkan memberikan sambutan. Ada juga anggota dewan yang mencak-mencak ketika tempat duduknya berbarengan dengan kursi tamu yang lain yang dia anggap tidak satu level. Perilaku seperti ini tidak ada bedanya dengan anak TK yang suka ngambek.

Dijalan raya kita juga sering menjumpai mobil-mobil yang diplatnya atau di atas dash boardnya dipajang Logo DPR, Logo Angkatan Bersenjata, topi militer, gantungan tanda pangkat dan lain-lain. Teman saya yang kebetulan melakukan hal yang sama beralasan bahwa dirinya tidak ingin menjadi santapan preman-preman berseragam yang berkeliaran dijalan. Tetapi yang lain banyak juga yang merasa pantas karena memang bapaknya, saudaranya atau kerabatnya memang ‘berpangkat’.

Sebagai orang awam, saya justru beranggapan bahwa lambang-lambang seperti itu mereka pasang karena ingin menyatakan pada siapa saja bahwa mereka bangga menjadi pelayan masyarakat, mereka juga cukup senang digaji oleh rakyat, untuk itu saya yakin lambang-lambang itu bentuk dari keterbukaan tangan mereka kepada semua elemen masyarakat yang membutuhkan bantuannya. ^_^


***


Kehormatan seseorang hakekatnya muncul dalam diri orang tersebut, dari ucapannya, tindakannya, dari sikap dan tingkah lakunya, orang akan tahu seseorang itu layak dihormati atau tidak. Kehormatan akan muncul dengan sendirinya dari dalam, bukan karena tampilan luar yang mengharuskan orang lain untuk menghormatinya, apalagi sampai menodongkan senjata api segala.

C L B K


Gerimis yang sempat turun di pagi itu tidak mengurangi keceriaan yang menyinari auditorium SMAN 2 Kota Serang (26/09/2010). Tampak wajah-wajah alumni terlihat gembira, diantaranya saling menyapa dan bercerita.

Beberapa sahabat datang menyambut dan saling berpelukan melepas rasa kangen.

Seperti biasanya, kursi yang telah disediakan panitia barisan depannya masih kosong karena di antara mereka sibuk bercengkrama bertemu teman lama di beberapa sudut ruangan. Suara tertawa begitu menggema di antara mereka.

Itulah suasana yang pertama saya temukan di acara reuni SMAN 2 Kota Serang angkatan 1993. Kami sudah 17 tahun telah berpisah dari bangku sekolah.

Sejatinya mendatangi reuni tentu saja menyenangkan, bertemu teman yang mungkin sejak lulus sudah tidak berjumpa lagi, padahal mereka teman akrab atau teman sebangku kita. Mereka adalah teman berbagi suka dan duka, mungkin pernah dihukum bareng karena dianggap melanggar peraturan sekolah, bersaing memperebutkan cinta seseorang, dan bergadang untuk mengerjakan tugas kelompok atau sekedar kumpul bareng sampai pagi.

Saat memandangi mereka saya terkadang tersenyum, ternyata tidak hanya rambut saya yang mulai beruban dan perut yang mulai maju kedepan, teman-teman juga banyak yang berubah, yang dulu kurus kini melebar kesamping dan kedepan, yang dulu tampak dekil sekarang klimis bergaya metroseksual, yang dulu tampak pemalu sekarang begitu pede. Ada juga yang sebaliknya, dari gemuk menjadi kurus, bahkan ada juga yang tidak berubah, hanya sedikit lebih tua.

Namun lamunan saya sempat melayang saat beberapa teman tidak terlihat hadir, banyak hal memang yang membuat mereka terpaksa melewatkan momentum yang jarang terjadi ini, mungkin karena alasan tidak dapat meninggalkan pekerjaan, tidak dapat meninggalkan keluarga, sakit atau mungkin karena alasan status sosial. Bagaimana tidak, pada saat kita bertemu dengan teman-teman lama kita tidak bisa menghindar dari pertanyaan-pertanyaan seputar status sosial, bertempat tinggal dan bekerja dimana. Atau jangan-jangan hanya karena mereka belum mampu menyisihkan uang iuran, tentu saja ini menjadi PR kita bersama pada kegiatan-kegiatan berikutnya.

Berbagi cerita bersama teman-teman saya merasa bersyukur, banyak sisi positif yang dapat saya ambil dari cerita mereka, ada yang lurus-lurus saja seperti jalan tol, ada yang berkelok-kelok dan ada juga yang sangat berwarna seperti saya. Ada yang sudah jadi PNS, Pegawai Swasta, Dokter, Pengusaha, menjadi Ibu rumah tangga yang baik bahkan Ustadz. Kadang saya sudah bisa menebak mereka akan jadi apa karena sesuai dengan cita-citanya atau karena bakat perilaku dan fisiknya. Tetapi saya juga sempat geleng-geleng kepala tak percaya karena ada teman yang bertolak belakang dan berubah drastis dengan keadaannya semasa SMA dulu.

Dalam kehidupan sosial, reuni menjadi bermakna karena menjalin kembali tali silaturahmi yang selama ini sempat terputus karena kesibukan masing-masing maupun perbedaan arah kehidupan yang dijalani. Tujuh belas tahun merupakan waktu yang cukup panjang, ada saat dimana kita merindukan saat-saat yang indah, yang memberikan kenangan dan kesan yang tidak terlupakan, salah satunya adalah saat-saat kita sekolah di SMAN 2 Serang.

Reuni menjadi sarana untuk kita kembali berkumpul, kangen-kangenan, bernostalgia mengenang kembali saat-saat suka dan duka ketika tumbuh bersama seatap sekolah. Rekaman kenangan itu tiba-tiba begitu dekat terbayang pada saat kita menyaksikan slide show photo-photo jadul yang ditampilkan panitia di screen. Kami diberikan kesempatan untuk berbagi cerita di atas panggung mengenai hal-hal menarik, hal-hal lucu, hal-hal konyol yang tidak terlupakan di masa SMA. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh teman-teman juga sebagai ajang pengakuan dosa atas kenakalan sekaligus permohonan maaf kepada guru-gurunya. Acara ini mampu menghidupkan suasana dan memancing memori masa lalu. CLBK menjadi tema reuni yang sangat menarik yaitu Cerita Lama Berkumpul Kembali. Bahkan menurut gosip yang beredar juga tidak menutup kemungkinan ada Cinta Lama Bersemi Kembali. ^_^

Yang menarik, disudut ruangan terparkir kendaraan pribadi Mang Pendil yang legendaris itu, kue-kuenya menjadi bagian dari jamuan makan di acara ini, penjaja jajanan yang satu ini sangat dekat dengan siswa siswi SMAN 2 Serang sejak kami sekolah dulu sampai sekarang. Mang Pendil menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kenangan kami.

***

Entah mengapa, tiba-tiba surah al-syams menancap kuat di benak saya ketika kepala sekolah Bapak Deni Arif Hidayat beberapa kali membuka kesempatan berbicaranya dengan mengucap kalimat “Demi matahari dan sinarnya di pagi hari, Dan bulan apabila ia mengelilingi…, Allah mengilhami sukma kebaikan dan keburukan, Beruntunglah mereka yang mensucikannya, Dan merugilah mereka yang mengotorinya.”

Saya jadi teringat sebuah petualangan religius dan spiritual milik Ary Ginanjar Agustian yang pernah saya ikuti dua tahun yang lalu pada saat pelatihan kepemimpinan di ciganjur. Konsep Emotional Spiritual Quotient yang disampaikan oleh trainer-trainer handal dan didukung oleh animasi, klip film, efek suara yang menggelegar membuat saya dan rekan-rekan mengharu biru menerima kenyataan diri ini tidak mengenal siapa dirinya. Bagaimana diciptakan dan sampai dengan simulasi bagaimana kehidupan setelah mati nanti.

Dua jempol untuk Kepala Sekolah yang mampu mengaplikasikan konsep ESQ dalam proses belajar mengajar sehari-hari di lingkungan SMAN 2 Serang. Adik-adik kita dituntun untuk selalu membangkitkan 7 nilai dasar yaitu jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil dan peduli, nilai-nilai yang sebenarnya sudah tertanam dalam diri manusia sejak lahir. Terbukti sekolah kita kini mampu memaksimalkan seluruh potensi dirinya untuk kehidupan dan pekerjaan yang lebih produktif. Tidak mudah menjadikan SMAN 2 Serang menjadi satu-satunya sekolah spiritual, saya pikir menerapkan konsep ini jauh lebih baik daripada sekedar meributkan perlu tidaknya test keperawanan saat masuk sekolah.

Diluar dugaan acara yang penuh tawa canda ini ditutup dengan air mata yang tumpah saat doa bersama, kami diingatkan akan kematian yang sudah pasti menjemput, kesombongan, hawa nafsu, kelalaian, dan semua dosa-dosa kita pada orangtua, guru, saudara, sahabat, dan teman-teman seakan berputar-putar dalam layar ingatan. Mengingat kekuasaan-Mu ya Allah, dalam hati saya tersungkur serendah-rendahnya. Kamipun bermaaf-maafan, berpelukan dan berkumpul diatas panggung untuk diabadikan dalam photo, seolah kebersmaan ini tidak ingin pergi begitu saja. Satu persatu kilatan cahaya putih itu lepas dari beberapa digital camera menerangi kami.. namun ada satu kilatan yang warnanya coklat.. itu gumpalan tanah… kami semua pun menjadi gaduh.. saling melempar tanah.. kemudian berlarian menuju kelas-kelas dan berphoto disana.. ruang auditoriumpun jadi semakin berantakan … dasar anak-anak !!!! ^_^

PERUSAHAAN KELUARGA


Rabu malam suasana di Hotel Kempinski cukup ramai, beberapa polisi pengawal merapat di mobil-mobil dengan plat nomor satu sampai dua digit, karangan bunga papan dari perusahaan-perusahaan ternama juga berdesakan disepanjang jalan masuk untuk mengucapkan selamat atas ulang tahun ke-60 kepada kelompok usaha Lippo Group. Lebih dari 1.000 undangan menghadiri acara ini, nampak beberapa menteri, anggota DPR, Wakil Ketua MPR, para praktisi ekonomi, pengusaha, selebriti dan tokoh-tokoh politik terselip disana.


Grup Lippo, memiliki lebih dari 50 anak perusahaan. Di Indonesia, aktivitas grup ini terus meraksasa sampai mencengkeram di kawasan Asia Pasifik, terutama di Hong Kong, Guang Zhou, Fujian dan Shanghai. Kerajaan bisnis yang dibangun oleh Mochtar Riady ini sudah mulai memasuki generasi ketiga, sebut saja John Riady yang merupakan anak kedua CEO Lippo Group bernama James Riady, putra mahkota pendiri Lippo Group ini sempat menyita perhatian Amerika Serikat karena telah menyokong kampanye Presiden Bill Clinton.


Di usianya yang yang ke-60, Lippo Group melakukan terobosan dengan menunjuk Theo L Sambuaga sebagai Presiden Direktur. Ini merupakan sejarah bagi dunia perekonomian negara kita karena perahu besar yang didalamnya bernaung sejumlah perusahaan publik seperti PT Matahari Putra Prima, PT Lippoland Development Tbk, PT Lippo Karawaci, PT Matahari Department Store, PT Lippo Cikarang, PT Multipolar, PT Lippo Securities, PT Siloam Health Care, dan PT Aryaduta Hotel akan berjalan dibawah nakhoda seorang politikus kawakan.


James T. Riady mengatakan dipilihnya Theo Sambuaga merupakan keputusan yang sangat tepat. Hal ini didasari oleh reputasinya yang sarat dengan pengalaman di bidang politik dan menjabat sebagai Komisaris Lippo selama 15 tahun. James yakin Theo mampu bergerak seiring dengan tujuan bisnis Lippo Group yang akan memprioritaskan pembangunan infrastruktur sosial di kawasan timur dalam 30 tahun kedepan, khususnya infrastruktur komunikasi.


Tentu saja ini sebuah strategi bisnis yang cukup ciamik, bagaimana tidak di negara yang bernama Indonesia ini hubungan bisnis dan politik saling berkaitan sangat kuat. Aktifitas bisnis dapat dimudahkan karena adanya kegiatan politik, demikian juga sebaliknya. Maka munculah istilah seperti “no free lunch” bagi bantuan dana kampanye dari pengusaha kepada politikus atau partai yang sedang bertarung dalam suatu pilkada atau pemilu, ada juga teori politik yang disebut “bribes and kickback” atau timbal balik ekonomi dari sogokan dana agar bisnis mereka dipermudah seperti misalnya tender-tender pemerintah, keringanan pajak, kebijakan negara atau pemerintah daerah yang memudahkan bisnis mereka, dan sebagainya. Kaitan antara bisnis dan politik itu bagaikan gurita yang sulit dilepaskan.


Namun, terlepas dari itu semua, saya justru lebih tertarik untuk mencatat keberanian sang pemilik Lippo Group untuk menempatkan kalangan professional dilingkungan usahanya, kebijakan yang jarang dilakukan kebanyakan diperusahaan keluarga di Indonesia. Dengan demikian, peran dan tanggung jawab antara manajemen dengan pemilik dapat di pisah dengan jelas. Tujuannya tentu saja agar perusahaan bisa berkembang semakin besar sehingga semakin luas dimiliki oleh masyarakat dan bukan didominasi oleh keluarga.


Saya pernah merasakan sendiri bagaimana bekerja pada sebuah perusahaan keluarga. Semua posisi penting di manajemen diisi oleh keluarga seolah keluarga tidak percaya kepada orang luar dan langsung mengawasi karyawannya. Kebijakan sangat tergantung pada “moods” pemimpinnya, pelatihan dan pengembangan karyawan sering diabaikan, sedangkan anggota keluarga diperlakukan istimewa. Pada akhirnya perusahaan memiliki sejumlah kelemahan, karyawan merasa tidak memiliki kompeten dan merasa tidak berdaya, sehingga perusahaan tersebut tinggal menunggu masa kehancurannya.


Kalau saja perusahaan keluarga berani melakukan terobosan seperti James Riady, mungkin tidak ada lagi pameo tentang perusahaan keluarga yang mengatakan, “Generasi pertama menciptakan, generasi kedua mengembangkan, generasi ketiga menghancurkan”. ***

AMNESIA


Ada yang berbeda dari Grup Band Gigi mewarnai perjalan bulan ramadhan yang lalu, sejumlah televisi kerap dihiasi oleh video klip lagu berjudul Amnesia. Begitu juga dengan CDnya, sekitar 100 ribu keeping CD GIGI tersebar di 84 Carrefour di seluruh Indonesia. Istri vokalis GIGI, Dewi Gita dan sejumlah musisi seperti Tohpati, Iis Dahlia, Omelette dan Solitaire Addict ikut berkolaborasi meramaikan album bertajuk Amnesia tersebut.

Patut menjadi catatan, GIGI Band menyumbangkan Rp 10 ribu rupiah pada setiap CD album Amnesia yang terjual untuk kegiatan sosial melalui Yayasan Masyarakat Peduli Indonesia. Tema Amnesia yang dijual GIGI cukup cerdas ditengah masyarakat penganut hedonisme yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Berbanding terbalik dengan riwayat yang sangat masyhur seperti “beramalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan beramalah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati esok”, penganut paham ini justru berpandangan bahwa “bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati”.

Seolah-olah lupa bahwa sudah menjadi fitrah manusia untuk memiliki kecenderungan beragama, penganut hedonisme selalu dibela dan dilindungi ketimbang mereka yang berpegang teguh dengan ajaran agamanya yang selalu disudutkan dan dipersalahkan. Sehingga batasan mana yang benar dan mana yang salah menjadi abu-abu. Maka lirik lagu yang keluar dari suara Armand sang vokalis walaupun sederhana tetapi cukup menyentil hati,

berbuat baik jika kau dilihat orang
berkata halus jika kau didengar orang
menghujat orang pun tak pernah ditinggalkan
menzolimi orang pun selalu dilakukan

kadang kau beramal
kadang kau memfitnah
padahal Tuhan selalu melihat

pagi beriman, siang lupa lagi
sore beriman, malam amnesia
pagi beriman, siang lupa lagi
sore beriman, malam amnesia

Amnesia merupakan suatu kondisi memori yang terganggu atau hilangnya kenangan di masa lalu dan ketidakmampuan membayangkan masa depan. Sejatinya amnesia disebabkan beberapa hal seperti cedera kepala, epilepsi, dan trauma yang dapat merusak area otak yang penting dalam pengolahan memori. Tetapi Amnesia yang dimaksudkan oleh GIGI lebih kepada Amnesia yang disebabkan oleh kerusakan hati.

Lagu ini setidaknya mengingatkan saya bahwa kita sebenarnya telah banyak sekali diberi ‘rambu’ pengetahuan, bagaimana sebaiknya menjalani dan menyikap kehidupan ini agar kita tidak ‘defisit’ di dunia dan akhirat. Tapi sayangnya, seiring lagu itu selesai diperdengarkan, saya pun terkadang masih mengidap penyakit Amnesia. ***

BERANI BERUBAH


Belakangan ini media sedang ramai memberitakan seorang model, aktris film dan sinetron bernama Jessica Iskandar yang mengaku baru saja masuk Islam. Walaupun keluarganya memberikan kebebasan pada Chika, demikian biasa dipanggil, pro kontra ketertarikannya untuk menganut Islam justru muncul di dunia maya seperti pada akun twitternya, ada yang menyayangkan, tapi tidak sedikit yang mendukungnya.

Saya cukup tergelitik mendengar celotehannya di televisi bagaiman Chika belajar puasa dan menghafal beberapa doa. Masih terbayang wajah lugunya dua tahun yang lalu ketika saya menghadiri undangan launching film yang bercerita tentang parodi politik remaja pada 21 April 2008 di Planet Hollywood, Jakarta. Dalam film itu ia menjadi pendukung utama Nadia Saphira yang sedang bersaing keras dengan Tommy Kurniawan dalam rivalitas memperebutkan posisi Ketua Badan Ekesekutif Mahasiswa di kampusnya. Chika hanya tertawa saat saya goda soal peran yang penampilannya paling seksi. Maklum, dalam ceritanya Chika menjadi anak kuliahan yang memiliki sampingan sebagai “simpanan” dari pria beranak 2. Dia selalu punya jalan keluar untuk tim suksesnya walaupun idenya itu sering sedikit nakal. “Seksi kan bukan berarti Vulgar!”, katanya.

Chika yang sempat berpacaran dengan bule keturunan Belanda-Amerika ini kini semakin dewasa dan mulai mencari titik dimana ia mendapatkan pegangan yang bisa diyakininya, salah satu upayanya ialah dengan menjalani proses pembelajaran seperti belajar sholat, belajar menghafal beberapa doa dasar sampai pada akhirnya nanti Chika bisa mencintai dan memeluk agama Islam secara utuh.

Memang banyak alasan yang menyebabkan seseorang akhirnya memutuskan untuk menganut Islam, ada yang disebabkan oleh ketidakpuasan atas keyakinan sebelumnya, ada juga yang hanya untuk legalitas saja seperti memenuhi syarat pernikahan dan sebagainya. Tapi apapun alasannya dalam hati terkadang timbul rasa malu ketika melihat dan mendengar Chika yang baru saja memeluk Islam mengucapkan sebuah doa dengan lancar yang saya sendiri tidak hapal betul doa itu. Padahal saya beragama Islam sejak lahir. Itu baru Chika, apalagi ketika saya menyaksikan penceramah-penceramah andal seperti Irene Handoko, Syafi’I Antonio dan lain-lain yang sebelumnya berasal dari kalangan non-muslim. Mereka memeluk Islam melalui proses transformasi yang berisi pembelajaran dan pemahaman yang mendalam, sedangkan saya memeluk Islam hanya karena garis keturunan.

Yang menjadi catatan saya adalah hal yang tidak mudah ketika seorang non-muslim akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam, bagaimana mereka sangat berhati-hati dalam mempertimbangkan pilihannya, kebebasan beragama memang dijamin negara, tetapi pro kontra dan konsekuensi yang berkaitan dengan orang-orang disekitarnya tentu tidak dapat dihindari. Sehingga apapun alasannya, keberanian mereka untuk mengubah keyakinan merupakan keputusan yang benar-benar patut dihargai. Berani mengetahui, berani yakin, dan berani berubah.

***

REUNI DAN MUDIK



Obat lelah yang paling mujarab saat saya lelah bekerja adalah ketika pulang di sambut dengan senyuman sang istri, belum lagi melihat tingkah polah anak-anak sampai mereka terlelap merupakan energi yang luar biasa sehingga pada saat pergi selalu ada rasa kangen untuk kembali lagi, .. kembali melihat senyumnya yang tulus, kembali menatap kepolosan anak-anak, dan selalu ada rasa ingin kembali pulang ..


Sambil tersenyum, istriku memberikan secarik kertas yang bertuliskan nomer hp dan sebuah pesan “tanggal 26 ada reuni, ngga asyik kalo ketua OSISnya sampe ngga dateng!!!”. Rupanya seorang sahabat lama datang berkunjung, bersama yang lain ia menggagas temu kangen dengan teman-teman SMAnya. Setelah 17 tahun berpisah, ada rasa rindu untuk berkumpul kembali mengenang masa-masa indah disekolah dulu. Rindu akan nilai-nilai kebersamaan alamiah yang jarang lagi ditemukan.


Rasa rindu ini pula yang kemudian menjadi tradisi sebagian umat muslim di negara kita pada saat lebaran, yaitu pulang kampung. Lebih dikenal dengan kata mudik, pulang kampung bisa juga diartikan dengan kembali menuju kampung halaman untuk berbagi kebahagiaan bersama sanak keluarga setelah sekian lama ditinggal merantau mencari nafkah.


Kemacetan selama di perjalanan, berjubel-jubel, antrean yang panjang dan berbagai kesulitan yang akan dihadapi dalam perjalanan pulang menjadi tidak berarti pada saat kenikmatan bersilaturahmi, melepas rindu dan saling mema’afkan bersama keluarga sudah terbayang di depan mata.


Dua kata ; Reuni dan Mudik inilah yang kemudian menggelitik saya untuk menulis lagi, walaupun hanya sebuah catatan ringan ala kadarnya. Ada kerinduan untuk memulainya setelah cukup lama terhenti ketika saya memandang sebuah cermin diri yang begitu buram dan banyak retak disana sini. Ada masa dimana saya rindu untuk kembali mencurahkan isi hati seperti saat ini tanpa harus mempedulikan cermin itu.


Idul Fitri secara sederhana juga kerap diartikan sebagai kembali ke fitrah. Seperti yang diisyaratkan oleh Al-Qur’an bahwa manusia menurut fitrahnya adalah beragama. Sudah menjadi naluri manusia untuk selalu mencari Tuhannya, karena tanpa Tuhan pasti ada sesuatu yang kosong didalam hati, kita tidak akan bisa merasa damai dan bahagia. Sesibuk apapun kita, selalai apapun kita, selemah-lemahnya iman kita, pasti ada saat dimana hati ini terasa hampa dan selalu ingin kembali kepada Tuhannya.