PERUSAHAAN KELUARGA


Rabu malam suasana di Hotel Kempinski cukup ramai, beberapa polisi pengawal merapat di mobil-mobil dengan plat nomor satu sampai dua digit, karangan bunga papan dari perusahaan-perusahaan ternama juga berdesakan disepanjang jalan masuk untuk mengucapkan selamat atas ulang tahun ke-60 kepada kelompok usaha Lippo Group. Lebih dari 1.000 undangan menghadiri acara ini, nampak beberapa menteri, anggota DPR, Wakil Ketua MPR, para praktisi ekonomi, pengusaha, selebriti dan tokoh-tokoh politik terselip disana.


Grup Lippo, memiliki lebih dari 50 anak perusahaan. Di Indonesia, aktivitas grup ini terus meraksasa sampai mencengkeram di kawasan Asia Pasifik, terutama di Hong Kong, Guang Zhou, Fujian dan Shanghai. Kerajaan bisnis yang dibangun oleh Mochtar Riady ini sudah mulai memasuki generasi ketiga, sebut saja John Riady yang merupakan anak kedua CEO Lippo Group bernama James Riady, putra mahkota pendiri Lippo Group ini sempat menyita perhatian Amerika Serikat karena telah menyokong kampanye Presiden Bill Clinton.


Di usianya yang yang ke-60, Lippo Group melakukan terobosan dengan menunjuk Theo L Sambuaga sebagai Presiden Direktur. Ini merupakan sejarah bagi dunia perekonomian negara kita karena perahu besar yang didalamnya bernaung sejumlah perusahaan publik seperti PT Matahari Putra Prima, PT Lippoland Development Tbk, PT Lippo Karawaci, PT Matahari Department Store, PT Lippo Cikarang, PT Multipolar, PT Lippo Securities, PT Siloam Health Care, dan PT Aryaduta Hotel akan berjalan dibawah nakhoda seorang politikus kawakan.


James T. Riady mengatakan dipilihnya Theo Sambuaga merupakan keputusan yang sangat tepat. Hal ini didasari oleh reputasinya yang sarat dengan pengalaman di bidang politik dan menjabat sebagai Komisaris Lippo selama 15 tahun. James yakin Theo mampu bergerak seiring dengan tujuan bisnis Lippo Group yang akan memprioritaskan pembangunan infrastruktur sosial di kawasan timur dalam 30 tahun kedepan, khususnya infrastruktur komunikasi.


Tentu saja ini sebuah strategi bisnis yang cukup ciamik, bagaimana tidak di negara yang bernama Indonesia ini hubungan bisnis dan politik saling berkaitan sangat kuat. Aktifitas bisnis dapat dimudahkan karena adanya kegiatan politik, demikian juga sebaliknya. Maka munculah istilah seperti “no free lunch” bagi bantuan dana kampanye dari pengusaha kepada politikus atau partai yang sedang bertarung dalam suatu pilkada atau pemilu, ada juga teori politik yang disebut “bribes and kickback” atau timbal balik ekonomi dari sogokan dana agar bisnis mereka dipermudah seperti misalnya tender-tender pemerintah, keringanan pajak, kebijakan negara atau pemerintah daerah yang memudahkan bisnis mereka, dan sebagainya. Kaitan antara bisnis dan politik itu bagaikan gurita yang sulit dilepaskan.


Namun, terlepas dari itu semua, saya justru lebih tertarik untuk mencatat keberanian sang pemilik Lippo Group untuk menempatkan kalangan professional dilingkungan usahanya, kebijakan yang jarang dilakukan kebanyakan diperusahaan keluarga di Indonesia. Dengan demikian, peran dan tanggung jawab antara manajemen dengan pemilik dapat di pisah dengan jelas. Tujuannya tentu saja agar perusahaan bisa berkembang semakin besar sehingga semakin luas dimiliki oleh masyarakat dan bukan didominasi oleh keluarga.


Saya pernah merasakan sendiri bagaimana bekerja pada sebuah perusahaan keluarga. Semua posisi penting di manajemen diisi oleh keluarga seolah keluarga tidak percaya kepada orang luar dan langsung mengawasi karyawannya. Kebijakan sangat tergantung pada “moods” pemimpinnya, pelatihan dan pengembangan karyawan sering diabaikan, sedangkan anggota keluarga diperlakukan istimewa. Pada akhirnya perusahaan memiliki sejumlah kelemahan, karyawan merasa tidak memiliki kompeten dan merasa tidak berdaya, sehingga perusahaan tersebut tinggal menunggu masa kehancurannya.


Kalau saja perusahaan keluarga berani melakukan terobosan seperti James Riady, mungkin tidak ada lagi pameo tentang perusahaan keluarga yang mengatakan, “Generasi pertama menciptakan, generasi kedua mengembangkan, generasi ketiga menghancurkan”. ***